Dear all, mungkin dikira lebay ya mempublish masalah di medsos dan dibaca banyak orang.
Kenapa saya menganggapnya pancingan respon, karena setelahnya memang dia jadi ga sembarangan lagi.
Setahun sudah, pasca perceraian kami, dia pergi dengan ancaman kalau sampai saya gugat cerai maka anak-anak akan diambilnya. Saya akan dianggap mati dan karakter saya dibunuh dengan mengatakan kalau saya ga sayang anak-anak saya.
Bagi saya setahun waktu yang cukup untuk bounching back.
Kali ini tidak hanya mempublish diamnya saya selama ini tapi juga mengajukan gugatan hak asuh anak-anak.
Apapun keputusan pengadilan, akan saya terima. Saya tidak terlalu mengkhawatirkan apakah anak-anak akan bersama saya atau ayahnya. Tapi putusan pengadilan insyaAllah adil dan memikirkan kepentingan anak daripada kepentingan kami berdua.
Saya hanya berusaha.
Lalu beberapa menasihati saya tentang umbar aib dengan mantan, sayangnya saya tidak sedang ingin mendengar nasihat.
Bagi saya cukup.
Sama seperti saya memutuskan untuk bercerai.
Dan tidak bisa diancam dengan ancaman semengerikan apapun, diambil anak, tdk nafkahin, pergi, sudah tidak lagi membuat saya ngeri.
Bahkan, kalau dikatakan dia akan ambil nyawa saya, saya akan tetap hadapi, asalkan saya punya kesempatan untuk gugat cerai darinya.
Sengotot itulah saya.
Maka, saya berterimakasih atas nasihatnya, dan saya mohon maaf saya hanya mau dia tau betapa saya akan melakukan hal yang sama itu sekali lagi.
Memperjuangkan anak-anak saya.
Meski diancam, meski dimaki, disuru mati, di fitnah, di bunuh karakter saya, meski ancamannya saya mati, saya akan maju.
Untuk publish di medsos itu memang maunya saya agar dia tau dan bersiap menghadapi saya.
Mungkin saya diberi Allah kengototan bertindak, cepat bergerak, optimis dan cenderung gak hati-hati.
Tapi tak mengapa.. saya tidak punya banyak waktu juga karena siapa yang bisa jamin saya hidup sampai bulan depan?
It's time...
Anyway.. saya akan menceritakan bagaimana saya gugat hak asuh nanti.. untuk kawan seperjuangan yang sama-sama kehilangan anak karena egoisnya mantan pasangan, tenanglah.. kau tak sendiri.
Rasa takut memang harus dihadapi
Apapun anggapan orang, biarkan aja. Toh, mereka ga merasa apa yang dirasa jadi opini publik memang ga penting2 amat.. karena sesuatu yang gak bisa kita kendalikan.
Dari pada memikirkan opini orang luar diri lebih baik berencana untuk merebut kemerdekaanku sendiri. Dengan strategi taktis dan detail senyap dan BUM!!
It's TIME to Bounching back!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar